TUGU PRRI

TUGU PRRI
Tugu Bukti Sejarah PRRI

Rabu, 05 Oktober 2011

9 Pulau Potensi Dan Tempat Wisata Alam Nagari Air Bangis




Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) mempunyai potensi yang sangat menjanjikan
di wilayah laut dan pesisir. Hanya saja semua itu belum terkelola dengan maksimal. Tapi
kedepan semua potensi itu sudah menjadi komidmen pemerintah setempat untuk
mengelolanya menjadi sebuah objek wisata bahari.
Sebagai kabupaten yang berbatasan dengan samudra Hindia sudah tentu memiliki
wilayah laut dan pesisir, tidak kalah pentingnya juga memiliki pulau-pulau kecil. Jumlah
pulau kecil yang ada di Air Bangis sebanyak 9 buah, satu pulau diantaranya dihuni umat
manusia sekitar 1300 jiwa (250 KK).
Sembilan pulau tersebut sudah pernah ditinjau dan dikelilingi Dirjen Kelautan
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Depertemen Kelautan RI, Prof. DR. Syamsul
Muarif bulan lalu. Setelah meninjau pulau yang berpotensi itu ia lansung menyerahkan
bantuan sebanyak Rp 613 juta lebih. Bantuan itu dipergunakan untuk pembangunan pos
jaga pesisir pantai dengan luas 200 meter, tenaga listrik 3 K vol, pembangunan kedai
pesisir pantai, dan asuransi dari jamsostek untuk nelayan.
"Pemerintah pusat mempunyai kemampuan terbatas untuk mengelola potensi itu.
Tapi tahun ini ada sekitar Rp 149 milyar lebih dana dipusat untuk mengelola pulau di
Indonesia" kata Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Depertemen
Kelautan RI, Prof. DR. Syamsul Muarif kepada ratusan masyarakat Air Bangis Pasbar
waktu itu.
Saat ini tidak hanya cukup dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah
saja untuk mensejahtrakan masyarakat tanpa dibarengi dengan memberdayakan
masyarakat itu sendiri. Berdayakan masyarakat disekitar pantai dengan meningkatkan
SDM mereka melalui berbagai pelatihan-pelatihan.
Bahkan Dirjen KP3K Syamsul Muarif mendukung penuh pembangunan
pelabuhan Air Bangis sebagai potensi besar bagi Pasbar. Tapi yang terpenting adalah
status tanah perlu dikaji secara matang, luas lokasi pelabuhan minimal 10 Ha dan harus
jauh dari pemukiman penduduk.
"Pembangunan pelabuhan Air Bangis harus menjadi cita-cita masyarakat Pasbar
dan pemerintah daerah, maka perlu didukung semua pihak. Karena pelabuhan ini bisa
menghidupkan ekonomi masyarakat. Kedepan juga perlu dipikirkan pembangunan wisata
bahari karena Air Bangis berpotensi" ujar Syamsul Muarif.
Dirjen mengingatkan masalah lingkungan perlu diperhatikan dengan serius dalam
pembangunan. Tidak hanya membangun ekonomi saja tapi dari segi sosial perlu dilihat.
Wilayah pesisir perlu dijaga, jangan membuang sampah ke laut karena ikan akan lari
ujungnya nelayan akan rugi, sekarang memang tidak dirasakan tapi besok akan terjadi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasaman Barat, Jeflin Yulandri
kepada Wampel mengatakan secara administrasi pulau itu dikelapai oleh seorang seorang
jorong. Pulau yang dihuni manusia itu adalah Pulau Panjang, disana ada fasilitas
pendidikan berupa sekolah dasar, dan SMP terbuka, dan puskesmas pembantu, mesjid.
Selain itu di pulau tersebut juga terdapat fasilitas umum untuk penerangan (energi
listrik) berasal dari generator pembangkit listrik yang dikelola secara indipidu oleh
masyarakat setempat. Dan masih banya masyarakat hanya mempunyai berupa lampu
minyak.
Dari hasil investigasi wartawan Wampel, selama satu hari dengan memakai speed
boat bersama Kepala Pos TNI AL yang ada di Air Bangis, Serma. Maizelan, pulau-pulau
kecil yang terdapat di Air Bangis ternasuk pulau yang terbentuk berdasarkan proses
tektonik yang terjadi terutama pada daerah tumbukan antara lempeng. Namun melihat
dari jarak pulau-pulau tersebut yang cukup dekat dengan daratan induk sangat mungkin
pulau ini merupakan satuan daratan pulau samutra yang terpisah akibat proses
geologi.Berikut 9 pulau tersebut.

Pulau Panjang

Pulau Panjang memiliki luas sekitar 220 Ha, merupakan satu-satunya pulau yang
dihuni oleh penduduk. Lahan daratan di pulau ini selain dimanfaatkan masyarakat tempat
tinggal juga dimanfaatkan untuk usaha perkebunan. Seperti kebun kelapa, cengkeh dan
lainnya.
Sementara didekat pantai dimanfaatkan untuk
usaha perbaikan kapal penangkap ikan. Di pulau
itu dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan
memancing, penangkapan udang lobster dan
juga kegiatan budidaya ikan kerapu dan rumput
laut.
Pemkab Pasbar melalui Dinas Kelautan
dan Perikanan mengalokasikan dana yang
bersumber dari APBN dan APBD tahun 2007
untuk membangun sarana dan prasarana pulaupulau
kecil. Seperti pos jaga, energi alternative
dan fasilitas jalan kampong.
Disamping itu untuk menjaga dan mengawasi aktivitas pemanfaatan potensi laut, pesisir
dan perikanan tahun lalu juga dianggarkan pengadaan speed boat pengawasan.
Untuk tahun anggaran 2008 direncanakan pembangunan lanjutan sarana PPK
berupa dermaga tempat penambahan daya energi alternative sebanyak 3 KWh serta
penambahan jalan kampong. Kedepan selain sebagai sentra kelautan, pesisir dan pulaupulau
kecil Pulau Panjang juga direncanakan sebagai sentra pengawasan dan
pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan, sentra budidaya perikanan laut berupa
budidaya ikan kerapu, budidaya rumput laut serta sentra pengolahan ikan senangi.

Pulau Harimau

Pulau ini lusanya sekitar 105 Ha berdekatan dengan pulau unggas merupakan
pulau yang tidak berpenghuni dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan.
Sekalipun ada, itu hanya pemanfaatan terbatas (kawasan penangkapan kepiting-red).
Pulau ini memiliki kontur berbukit, masyarakat sekitar Air Bangis mempercaya pulau
harimau mempunyai cerita misterius dan anker.
Sehingga masyarakat enggan untuk memanfaatkan lahan di pulau tersebut untuk
menjadi lahan produktif. Dengan kondisi tersebut kawasan ini cocok dijadikan kawasan
lindung local yang berfungsi sebagai wilayah pemijahan ikan-ikan karang dan untuk
Kapal Boat merupakan alat transportasi
utama Masyarakat Pulau Panjang
mempertahankan habitat mangrove. Berhadapan dengan pulau harimau dan pulau unggas
kearah daratan pulau Sumatra terdapat hamparan hutan mangrove dengan luas sekitar
3.500 Ha.

Pulau Unggas

Pulau unggas mempunyai luas sekitar 5 Ha, pulau ini hanya ditumbuhi oleh
mangrove dan merupakan kawasan bermain bagi berbagai jenis burung. Latar belakang
ini yang menyebabkan oleh masyarakat setempat dinamakan pulau unggas.
Laut sekitar pulau unggas sangat tenang dasarnya merupakan habitat padang
lamun dan juga terumbu karang sehingga sangat cocok untuk pengembangan keramba
jarring apung (KJA) untuk jenis ikan kerambu. Disamping pengembangan perikanan
budidaya daerah sepadan pulau unggas ini juga direncanakan menjadi kawasan lindung
local dengan pola pemanfaatan terbatas, sehingga kelestarian ekosistim dapat terus
terpelihara.

Pulau Pigago dan Pulau Telur

Pulau pigago mempunyai luas sekitar 40 Ha, sama dengan pulau telur, pulau ini
hanya ditumbuhi oleh mangrove dan pohon kelapa. Kawasan laut sekitar pulau pigoga
pada bagian yang terlindung sangat cocok untuk mengembangkan budidaya rumput laut
maupun budidaya ikan kerapu. Disamping pantainya yang landai perairannya juga jernih
dengan substrat dasar pasir. Ekosistim terumbu karang juga dijumpai dikawasan ini dan
merupakan ekosistim terumbu yang terbaik di kawasan pulau-pulau tersebut.
Sedangkan pulau telur memiliki laus sekitar 45 Ha, pulau ini hanya ditumbuhui
oleh mangrove dan pohon kelapa, merupakan kawasan bertelur bagi penyu belimbing.
Sekeliling pulau telur adalah ekosistim terumbu karang yang sebagian besar masih cukup
baik. Satuan ekosistim pulau telur sudah seharusnya dilindungi bukan hanya sebagai
habitat penyu belimbing tetapi juga sebagai penyangga keberadaan spesies lainnya seperti
ikan, kepiting dan udang.

Pulau Tamiang dan Pulau Pangka

Luas Pulau Tamiang hanya sekitar 15 Ha dan berdekatan dengan pulau panjang.
Disamping dimanfaatkan sebagai lahan untuk berkebun kelapa, pulau ini juga
dimanfaatkan nelayan untuk beristirahat.
Hamparan terumbu karang diselat pulau tamian dengan pulau panjang merupakan asset
penting bagi keutuhan ekosistim perairan pulau-pulau kecil di Pasbar disamping bisa
dimanfaatkan untuk wisata bawah air. Kawasan ini nantinya direncanakan pengembangan
dengan pola pemanfaatan terbatas yakni pembatasan alat tangkap dan pengembangan
budidaya rumput laut.
Sedangkan pulau pangka memiliki luas 40 Ha, pulau ini ditumbuhi oleh mangrove dan
juga kelapa. Di pulau tersebut terdapat mercu suar dan kawasan laut sekitar pulau
tamiang sering dimanfaatkan nelayan untuk melaksanakan aktivitas penangkapan ikan.

Pulau Terbakar dan Pulau Nibung

Pulau terbakar memiliki luas sekitar 10 Ha, dimana pulau terbakar dikarenakan
pulau ini hanya ditumbuhi oleh semak belukar dan itupun hanya dalam jumlah yang
sedikit. Menurut cerita masyarakat setempat pulau ini dulunya pernah kebakaran hingga
dinamakan pulau terbakar. Disekitar pulau ini juga ditemukan terumbu karang dan
hamparan gosong juga ada di sekitar pulau terbakar tersebut.
Sedangkan Pulau Nibung tidak jauh berbada dengan pulau terbakar, pulau ini juga
memiliki luas sekitar 10 ha. Hanya saja pulau ini penuh ditumbuhi oleh tanaman nibung
(sejenis nipah-red) dan berada persis di mulut muara sungai Tomak. Pulau ini sering
dimanfaatkan masyarakat untuk beristirahat dikala mencari ikan.

RENCANA PENGEMBANGAN

Pemda Kab Pasbar mengatakan rencana pengembangan pulau pulau
kecil kedepan adalah seperti kawasan lindung diperlukan untuk menjaga
kelestarian sumberdaya perikanan, di kawasan PPK Pasbar Pulau Telur ditetapkan
sebagai kawasan konservasi laut daerah (KKLD). Biota penting yang menjadi ikon pulau
telur adalah keberdaraan penyu belimbing yang senantiasa bertelur di pulau ini.
Pulau Telur direncanakan sebagai zona inti sementara zona penyangga adalah
pulau Pigoga, pulau Tamiang dan pulau Pangka. Pada 2007 melalui dana DAK dan
APBD Pasbar telah dibangun Pos Jaga PPK yang nanti akan dimanfaatkan menjaga
daerah konservasi dan lainnya.
Sedangkan pengembangan budidaya perikanan laut bertujuan untuk menjamin
ketersediaan stok perikanan terutama yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta sumber
laut lainnya secara berkelanjutan. Pengembangan budidaya ini diharapkan dapat
mendukung kegiatan industri perikanan.
Langkah kedepan Pemda juga akan dibangun kawasan wisata bahari, ini
merupakan bentuk pemanfaatan yang sudah menjadi wacana nasional bahkan
internasional. Manajemen lingkungan terpadu antara pemanfaatan potensi sumberdaya
alam untuk pembudidayaan biota, kawasan
Lindung serta wisata pada suatu daerah tertentu menjadi kawasan tersebut menjadi lebih
efisien. Pemanfaatan dengan pola tersebut dinamakan dengan agriwisata serta
ekotourisme.
Pulau-pulau kecil yang berpotensi untuk wisata bahari itu adalah pulau pigoga,
antara pulau tamiang dengan pulau panjang berpotensi untuk snorklingan. Wisata
paralayang sangat cocok di perairan Pulau Panjang dan Air Bnagis karena pulau itu
berhaluan cukup tenang.
Dan juga di pulau lainnya sangat cocok dikembangkan wisata diving, baik sebagai
olahraga maupun sebagai wisata bawah air. Ditambah lagi untuk kawasan fishing karena
terbukti seringnya kawasan ini dijadikan lokasi untuk kegiatan lomba mincing.
Selain itu pulau-pulau ini juga mempunyai potensi secara keseluruhan potensi
mangrove di Pasbar mencapai 6.276,50 Ha. Tapi untuk kawasan Teluk Air Bangis dan
pulau-pulau kecil di Pasbar potensi itu mencapai 3.500 Ha dengan tingkat
keanekaragaman yang tinggi yakni sekitar 51 jenis spesies.
Ekosistem mangrove termasuk yang sangat produktif, hal ini dipengaruhi oleh
dua factor utama seperti fluktuasi pasang surut dan kimia air. Tingginya bahan organic
diperairan hutan mangrove, memungkinkan sebagai tempat pemijahan, pengasuhan dan
pembesaran atau sebagai tempat mencari makan bagi ikan, kepiting, udang dan habitat
lainnya.
Apabila dikonfersikan dalam 1 Ha ditumbuhi oleh 1000 batang mangrove dan
satu batangnya hidup dua ekor kepiting maka ada 7 juta ekor kepiting yang hidup di
kawasan ekosistem tersebut. Hal ini adalah potensi yang sangat penting bagi Pasbar,
khususnya masyarakat nelayan.
“Memang diakui potensi di wilayah pesisir pantai sangat besar. Tapi semua itu belum
terkelola dengan maksimal, apalagi kabupaten ini baru dimekar. Tapi ini sudah menjadi
komidmen pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di
wilayah pesisir pantai serta potensi lainnya yang ada di Pasbar. Karena ini merupakan
asset besar bagi kabupaten yang bisa memberikan kontribusi yang besar nantinya bagi
pemerintah daerah dan masyarakat”
Tapi untuk mengembangkan semua potensi yang ada di pesisir pantai perlu
dukungan ninik mamak, dan seluruh lapisan masyarakat. Tanpa ada dukungan dari
seluruh lapisan masyarakat sudah tentu setiap pembangunan tidak akan berhasil dengan
baik. (Tim Wampel)
9 PULAU

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar